Dari Mereka yang Kekurangan, Aku Dapat Lebih Banyak.


Penulis : Elandra
Penyusunan : Ai
Waktu Baca : 3,5 Menit


Minggu, 17 Agustus 2025, jam sudah menunjukkan 22.10. Aku yang saat itu tengah berjualan mulai merasa Malioboro sudah tidak cukup ramai. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke arah utara, yaitu ke kawasan Tugu. Sesampainya di sana, aku memesan secangkir Kopi Joss dan duduk di trotoar untuk mengistirahatkan tubuhku serta menikmati secangkir kopi yang kupesan tadi.

Singkat cerita, tepat pada tengah malam, aku dihampiri oleh seorang bapak-bapak pemulung. Dia menggembol karung dengan satu tangan, kemudian tangan yang lain merogoh kantong mengambil sejumblah uang. Aku pikir dia ingin membeli air minum yang kujual, ternyata aku salah. Dia memberiku uang itu tanpa banyak bicara, dan ada semacam isyarat bahwa aku harus menerima uang itu. Setelah dia berlalu begitu saja, beberapa waktu kemudian ia kembali lagi. Dia menanyakan asal usulku. Dirasa sudah cukup, ia kembali pergi begitu saja.

Aku punya banyak cerita mengenai kejadian-kejadian semacam ini. Mulai dari ibu-ibu pemulung yang secara kondisi jauh lebih memprihatinkan daripada aku sendiri. Sedikit gambaran, maaf, wajahnya kumal, bajunya dekil, rambutnya acak-acakan, menenteng plastik berisi botol bekas. Namun, dia dengan ikhlas dan senyum yang begitu menyayat memaksaku untuk menerima uang pemberiannya.

Ada juga sebuah kejadian lucu dan menarik. sewaktu-waktu aku pernah berjalan melewati sebuah lampu merah. Di pinggir lampu merah tersebut ada seorang penyandang disabilitas yang sedang mengemis. Aku yang merasa lebih beruntung daripada orang tersebut. Aku mempersiapkan selembar uang untuk memberikannya kepada orang tersebut. Aku melihatnya dari kejauhan, dan dia juga melihatku. Namun, ketika kami papasan, dia juga menawarkan uang kepadaku. Aku yang tersentak cukup sedikit kebingungan dan akhirnya Uang yang sudah kusiapkan itu kulempar begitu saja, lalu aku berlalu. Setelah cukup jauh dari orang tersebut, aku kemudian tertawa terbahak-bahak. Kalian bisa membayangkan, ada dua orang difabel saling mengasihani dan saling berupaya untuk saling memberi.

Kadang aku berpikir, tidak enaknya jadi difabel itu sulit sekali menolak pemberian orang lain, sekalipun dari mereka yang mungkin jauh lebih kurang beruntung hidupnya daripada aku sendiri. Aku juga sering bertanya-tanya, sebenarnya apa yang mereka lihat dariku? Apakah kondisiku se-urgent itu dibandingkan dengan kondisi mereka sendiri?

Begitulah dinamika masyarakat yang merasa punya kesamaan dalam nasib, atau mungkin ada hal-hal yang lebih daripada itu.

Aku melihatnya seperti ini: mungkin orang-orang yang berada di bawah justru lebih punya kepekaan, lebih punya hati nurani dalam melihat lingkungan di sekitarnya. Mereka begitu mengerti susahnya hidup dan sulitnya mencari uang. Dan ketika ada satu fenomena kesulitan yang mereka tangkap, mereka tidak segan-segan memberikan apa yang mereka punya, sekalipun itu sebagian atau bahkan setengah dari apa yang mereka miliki.

Kejadian-kejadian semacam ini kadang membuatku menangis terisak-isak dan membawaku pada perenungan yang lebih dalam tentang hidup, tentang bagaimana penderitaan itu sendiri. Dan sering kali ini menjadi cambuk yang begitu keras untuk diriku ketika aku mulai lupa untuk bersyukur dan berterima kasih atas hidup yang aku jalani.

Yogyakarta,
12 September 2025.

Komentar

Postingan Populer