Tak Ada Gerutu yang Sia-Sia.


Penulis : Elandra
Penyusun : AI

Sejak kecil, aku percaya bahwa perpustakaan adalah tempat paling tenang di dunia. Waktu masih duduk di sekolah dasar, aku sering menghabiskan waktu di sebuah perpustakaan kecil yang menempel pada masjid. Meski tidak luas, tempat itu cukup bagus untuk ukuran saat itu. Rak-raknya tertata rapi, catnya masih terjaga, dan buku-buku di dalamnya beragam: dari cerita rakyat, majalah anak, sampai buku pengetahuan yang membuat mataku berbinar. Aku suka duduk diam sambil mencium aroma khas kertas yang agak tua, membalik halaman dengan hati-hati, dan merasa seakan aku sedang berkelana ke dunia yang lebih luas daripada halaman rumahku sendiri.

Namun, ada satu hal yang kerap membuatku pulang dengan berat hati: buku-buku itu tidak boleh dibawa pulang. Aku hanya bisa membacanya di tempat, lalu harus berhenti ketika jam sudah habis. Rasanya seperti ditarik keluar dari mimpi yang sedang indah-indahnya. Kadang aku bahkan masih menoleh ke rak itu saat meninggalkan ruangan, seolah berharap ada yang tiba-tiba mengizinkanku membawa satu buku saja.

Setiap minggu, ada momen lain yang selalu kutunggu. Perpustakaan sebuah TK dibuka untuk umum selama satu jam. Suasananya hangat: anak-anak duduk lesehan dengan wajah sumringah, disuguhi camilan, lalu diajak membaca dan menggambar. Aku ikut nimbrung, meski tubuhku berbeda, meski aku lebih sering hanya mengamati. Tapi justru dari situlah aku belajar, bahwa buku bisa membuat siapa pun merasa sama—tak peduli siapa dirinya.

Suatu sore, aku pernah menggerutu lirih, “Aku ingin sekali punya perpustakaan sendiri, tempat di mana aku bisa membaca sepuasnya tanpa dibatasi waktu.”
Bagi orang lain, mungkin itu hanya omongan seorang anak yang bosan. Tapi bagiku, kalimat sederhana itu menancap kuat, seperti doa yang tak sengaja terucap.

Tahun berganti. Aku tumbuh dengan tubuh yang tidak sempurna, dengan keterbatasan yang sering membuat orang lain meremehkan. Tatapan kasihan, bisikan ragu, semua itu sudah biasa kudengar. Namun aku belajar satu hal: keterbatasan tidak pernah bisa menghentikan mimpi, selama aku masih percaya pada diriku sendiri.

Hari ini, di usia dewasaku, aku bisa menatap sesuatu yang dulu hanya kuucapkan sambil setengah bercanda. Buku-buku yang kukumpulkan dari berbagai tempat—mulai dari pasar loak, hadiah seorang teman, hingga buku yang kubeli dari hasil kerjaku—kini tersusun rapi di sebuah rak pemberian sahabat. Rak itu berdiri di pojok kamar kontrakanku yang tak seberapa, tapi bagiku ia lebih berharga daripada ruang mewah mana pun. Karena di situlah, aku melihat doa masa kecilku menjelma nyata.

Dan di sanalah aku sadar: mimpi tidak selalu lahir dari tempat besar atau keadaan sempurna. Kadang, ia tumbuh dari sebuah gerutu kecil seorang anak, lalu menetap di pojok kamar sederhana untuk mengajarkan satu kebenaran—bahwa tak ada gerutu yang sia-sia, bila di dalamnya ada harapan yang terus dijaga.


Yogyakarta.
05 September 2025

Komentar

Postingan Populer