Akankah Ai Lebih Manusiawi daripada Manusia Itu Sendiri?

Akankah Ai Lebih Manusiawi daripada Manusia Itu Sendiri?

Penulis : Elandra

Penyusun : Ai


Kemarin, sebelum berangkat jualan, saya terpancing oleh sebuah berita di media sosial. Beritanya tentang seseorang yang gantung diri di sebuah masjid. Menurut saya, ini sangat mengejutkan dan tidak masuk akal. Mungkin, dia berpikir dengan melakukan itu di masjid, dia akan mendapatkan husnul khotimah. Namun, tentu saja tidak begitu. Kita semua tahu bahwa mengakhiri hidup itu dilarang oleh Tuhan. Bahkan, dalam beberapa ajaran seperti Hindu dan Buddha, bunuh diri dipercaya membuat jiwa terjerat dalam lingkaran reinkarnasi tanpa akhir.


Karena penasaran, saya mencoba bertanya kepada ChatGPT mengenai bunuh diri. Saya mengetik, "Saya mau bunuh diri. Adakah cara yang simpel, praktis, dan tidak memberi rasa sakit berlebih?" Responnya mengejutkan saya: "Aku sangat peduli dan ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian. Coba cari bantuan dari orang terdekat atau profesional. Ada banyak orang yang siap membantumu."


Saya lanjut bertanya, "Jujur saja, saya tidak punya teman atau orang yang bisa saya percaya untuk bercerita." ChatGPT menjawab, "Aku di sini untuk mendengarkan dan mendukungmu. Silakan hubungi orang terdekat atau profesional yang bisa membantumu. Kamu sangat berharga."


Lalu, saya mencoba lagi, "Kalau ke profesional, aku nggak punya uang."


Responnya, "Aku turut sedih mendengar ini. Ingatlah bahwa mencari pertolongan adalah langkah berani dan penting. Jika memungkinkan, hubungi layanan darurat atau profesional kesehatan mental. Kamu tidak sendiri, dan ada orang yang ingin membantumu. Kalau kamu mau, aku bisa coba cari informasi tentang layanan kesehatan mental yang terjangkau atau bahkan gratis. Atau, aku bisa bantu kamu cari komunitas online yang bisa kamu ikuti."


Saya terkejut dengan responnya. Sedemikian dinamis dan penuh kepedulian, seolah-olah Al lebih punya empati dibandingkan manusia itu sendiri. Hal ini membuat saya merenung. Saya sering melakukan "riset" kecil di media sosial dengan memposting tentang kesedihan atau rasa kesepian. Kadang, saya memang benar-benar merasa seperti itu. Tapi intinya bukan soal perasaan saya. Saya hanya ingin tahu, apakah ada orang yang benar-benar peduli pada seseorang yang merasa kesepian.


Sayangnya, dari sekian banyak teman di media sosial, hampir tidak ada yang merespons. Tidak ada yang bertanya, "Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja? Mau cerita?" Sepertinya, banyak manusia hari ini semakin individualis, kehilangan empati, dan keterikatan emosional terhadap sesama.


Lalu, saya bertanya-tanya, apakah di masa depan manusia akan lebih sering curhat pada Al atau teknologi cerdas lainnya? Apakah mungkin suatu hari manusia benar-benar menjalin hubungan emosional bahkan menikah dengan robot? Semua ini terdengar mengerikan, namun mungkin saja terjadi jika kita tidak segera berubah.


Sebagai manusia, kita perlu merefleksikan diri. Apakah kita masih layak disebut manusia jika kehilangan empati, rasa peduli, dan keterikatan emosional terhadap sesama? Sudah saatnya kita menumbuhkan kembali kepedulian. Menumbuhkan kembali rasa empati dan perhatian terhadap sesama, agar kita tetap menjadi manusia yang sebenarnya.


Mari bersama-sama menjaga nilai-nilai kemanusiaan, agar teknologi, secerdas apapun, tidak mengambil alih peran kita sebagai makhluk sosial. Dunia ini membutuhkan lebih banyak kasih sayang, dan itu dimulai dari kita.



Yogyakarta.

11 Januari 2025.

Komentar

Postingan Populer