Hidangan Yang Tertinggal

Hidangan yang Tertinggal

Entahlah,
sudah berapa lebaran kutempuh
tanpa ketupat,
tanpa lontong,
tanpa opor ayam hangat di pagi raya,
tanpa rendang yang mengikat lidah
atau sambal goreng kentang yang manis-pedas
seperti kenangan kecil yang membandel.

Apa yang ada di kepalaku ini, Mak?
Isinya cuma makanan selalu makanan.
Karena hari raya,
di rumah kita,
bukan tentang tawa atau peluk hangat.
Ia cuma bualan,
angan-angan yang tak pernah menjadi nyata.

Tapi masakanmu,
ah... itu lain cerita.
Masakanmu adalah satu-satunya hari raya
yang pernah benar-benar kurayakan.

Mak, apa kabar?
Masihkah kau masak lontong selembut dulu?
Masihkah opormu dihangatkan berkali-kali
tanpa pernah kehilangan rasanya?

Dan setelah Idul Adha seperti ini,
biasanya aku menanti sup sederhana buatanmu itu
tanpa sayur, hanya daging yang lembut
karena kau tahu anakmu ini
tak suka yang keras-keras,
meski hidupnya selalu menantang
yang paling keras.

Ah, Mak...
Yang paling keras memanglah
kepalaku.

Seandainya aku tidak sekeras itu,
mungkin aku masih duduk di rumah
menikmati hidanganmu
dengan damai,
tanpa resah,
tanpa beban,
tanpa rindu yang membara seperti ini.

Tapi seperti keyakinanku yang lama:
semua yang ada… akan tertinggal.
Menjadi kenangan.

Begitu juga hidanganmu, Mak
yang kini tinggal harum samar
di sudut hati yang tak pernah kenyang. 

Yogyakarta. 
6 Juni 2025.

Komentar

Postingan Populer