Lebaran Anak Yatim – Bukan Soal Tanggal, Tapi Soal Rasa.
Penulis: Elandra
Penyusun: AI
Waktu baca: 4,5 menit
Hari Kamis, 3 Juli 2025.
Aku membuka kalender Jawa.
Bukan buat cari hari baik, bukan buat hitung weton,
tapi entah kenapa… tanganku berhenti di satu titik: 6 Juli 2025.
“Lho, ini kok 10 Muharram ya?” gumamku pelan.
Hari Asyura.
Dan seperti ada angin halus lewat di dada.
Membuka pintu yang sudah lama terkunci—pintu kenangan,
yang aromanya masih hangat dan tidak basi oleh waktu.
Aku langsung ingat masa kecilku.
Masa di mana 10 Muharram bukan cuma angka.
Tapi hari yang penuh tawa, senyum, dan... amplop.
Hari yang orang-orang sebut dengan istilah yang nggak pernah kutahu siapa penciptanya:
Lebaran Anak Yatim.
---
Aku nggak tahu, siapa yang pertama kali kasih nama itu.
Tapi yang jelas, waktu kecil dulu, aku dan teman-temanku yang yatim
selalu menunggu-nunggu hari itu seperti anak-anak lain menunggu Idul Fitri.
Kami disuruh pakai baju bagus. Disuruh kumpul di masjid.
Ada yang ngelus kepala kami dengan penuh kasih,
ada yang nyelipin amplop berisi uang jajan,
ada yang cuma senyum—tapi senyum itu hangat.
Sebagai anak yatim yang juga hidup dengan disabilitas,
aku sering dapat perhatian lebih.
Dan bukan uangnya yang paling membahagiakan,
tapi rasa dianggap. Rasa diterima. Rasa disayang.
Hari itu, kepala-kepala kami dielus-elus.
Dan bagi anak yatim, elusan itu bukan cuma sentuhan kulit.
Itu pengganti pelukan dari ayah yang sudah tiada.
Itu pengganti “nak, kamu kuat ya” yang tak pernah terdengar dari mulut ayah.
---
Sekarang, setelah dewasa, aku mulai mikir:
Kenapa sih kok anak yatim disantuni di hari Asyura?
Kenapa 10 Muharram dijadikan ‘Lebaran Anak Yatim’?
Aku coba baca-baca, cari tahu.
Ternyata, dalam Islam memang 10 Muharram itu hari yang mulia.
Hari di mana Nabi Musa diselamatkan.
Hari di mana perahu Nabi Nuh berlabuh.
Hari di mana cucu Nabi, Imam Husain, gugur karena melawan kezaliman.
Tapi nggak ada keterangan khusus bahwa itu adalah harinya anak yatim.
Nggak ada ayat atau hadis yang bilang begitu.
Lalu, kenapa budaya ini ada?
Mungkin karena orang Indonesia itu peka.
Karena masyarakat kita dulu belajar dari langit,
tapi meresapinya dengan tanah.
Apa yang nggak ada dalilnya, bukan berarti tak ada nilainya.
Dan di hari di mana langit pernah menangis karena darah Husain,
mungkin kita—umat yang masih merasa—ikut menangis juga.
Tapi bukan dengan air mata,
melainkan dengan perhatian. Dengan sedekah. Dengan kasih.
Dan siapa yang paling pantas dicintai di hari duka?
Ya anak-anak yang hidup dalam kehilangan: anak yatim.
---
Sekarang…
Aku nggak tahu apakah tradisi ini masih ada.
Apakah masih ada masjid yang mengundang anak-anak yatim tiap 10 Muharram?
Masih adakah tangan-tangan yang mengelus kepala mereka dengan kelembutan?
Aku nggak tahu.
Tapi kalau pun sudah tak ada, aku harap…
yang hilang cuma acaranya.
Bukan rasa pedulinya.
Karena…
anak yatim itu nggak kehilangan orang tuanya setahun sekali.
Mereka kehilangan setiap hari.
Mereka sepi setiap malam.
Mereka menahan tangis tanpa peluk setiap pagi.
Dan karena itu…
Kalau bisa, kasih sayang kita pun jangan nunggu tanggal.
Kalau bisa, perhatian kita jangan nunggu kalender.
Karena mereka nggak butuh upacara.
Mereka cuma butuh dianggap manusia.
Diperhatikan.
Dipeluk.
Dibelai rambutnya sekali dua kali, lalu dibilang: “Kamu kuat, Nak.”
---
Jadi mungkin, Lebaran Anak Yatim itu bukan soal tanggal 10 Muharram.
Tapi tentang bagaimana kita, manusia, punya ruang untuk memanusiakan yang kehilangan.
Kalau pun tradisinya pelan-pelan memudar,
jangan sampai nurani kita ikut luntur.
Karena anak yatim itu bukan minta dikasihani.
Mereka cuma pengin tahu:
.masih adakah yang peduli?
Dan kita, dengan apa pun yang kita punya,
bisa jadi jawabannya.
07 Juli 2025.
Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar