Mas Yoga dan Asam Lambung yang Tak Pernah Selesai.

Penulis: Elandra 
Penyusun: AI 
Waktu baca: 5,5 menit


Sudah empat puluh hari sejak Mas Yoga pergi.

Empat puluh hari sejak tubuhnya ditanam, dan jiwanya entah sedang bertualang ke mana mungkin tengah duduk di antara para wali atau barangkali sedang nggosok batu akik kesayangannya, sambil tersenyum melihat kami yang masih sibuk dengan dunia.


Aku mengenal Mas Yoga kurang lebih tiga tahun lalu saat pertama kali ia buka lapak di pasar 17-an Mocopat Syafaat. Lapak batu akik kecil di sudut area, tak menonjol, tapi entah kenapa terasa mengundang. Sebagai seseorang yang memang suka batu akik, aku langsung tertarik. Bukan cuma karena batunya yang unik-unik, tapi karena cara Mas Yoga memperlakukan setiap pengunjung ramah, pelan, dan jujur.

Hobi batu akik itu sering membuatku mampir dan ngobrol. Kadang soal jenis batu, kadang soal teknik gosok, kadang cuma becanda ringan. Aku juga sering minta tolong Mas Yoga buat ngembani atau nyepuh ulang batu-batu koleksiku yang mulai kusam. Obrolan kami sederhana, tapi menyenangkan.

Memang aku nggak terlalu sering ngobrol panjang dengannya. Tapi Mas Yoga termasuk tipe orang yang meski jarang ditemui, tetap terasa dekat. Dan seperti yang sering dikatakan Cak Nun
Yang dalam itu bukan yang sering, tapi yang menancap.
Dan Mas Yoga dalam diam dan teduhnya menancap.

Dari semua momen bersama beliau, ada satu malam yang paling membekas dalam ingatanku. Malam itu jadi semacam simpul, tempat kehadiran Mas Yoga benar-benar terasa tak tergantikan.

Waktu itu tubuhku ambruk. Batu ginjalku kambuh mendadak. Rasa sakitnya seperti disayat dari dalam. Pinggang ngilu, kepala berat, dan aku benar-benar tak berdaya di kontrakan sendirian.

Aku langsung menghubungi Mas Wahid. Kukira cukup dibelikan obat, tapi tak lama setelah ia datang, aku benar-benar tak kuat menahan nyeri. Dengan suara tercekat aku bilang
Tolong Mas. Bawa aku ke UGD... sekarang.

Mas Wahid bingung. Nggak mungkin membawa aku sendirian. Maka ia langsung menghubungi Mas Yoga.

Mas Yoga saat itu sedang di jalan. Tapi begitu dihubungi, ia tanpa pikir panjang langsung meluncur ke kontrakanku. Begitu sampai, ia bantu angkat tubuhku bersama Mas Wahid, dan malam itu kami bertiga menuju rumah sakit.

Dan dari situlah malam itu menjadi malam yang paling tak kulupakan.

Yang membuatku terharu, teman-teman Jamaah Maiyah datang satu per satu. Bergantian berjaga. Ada yang menginap. Ada yang tidur di bangku tunggu. Ada yang sekadar mampir lalu datang lagi. Mereka bergiliran menjaga tanpa diminta. Diam-diam aku menangis dalam hati bukan karena sakit, tapi karena rasa ditunggui itu tak bisa dibeli.

Dan meski tubuhku remuk, aku tetap tak bisa diam.
Aku tetap ngebanyol, tetap bercanda, tetap ngobrol ngalor-ngidul soal hal-hal yang kadang tak penting.
Itulah caraku bertahan.
Rasa sakit tak selalu bisa disembuhkan, tapi bisa sedikit dihibur lewat tawa dan diskusi.
Dan Mas Yoga sangat tahu ritmenya. Ia menanggapi, mengimbangiku. Kadang nyengir, kadang membantah, kadang hanya tertawa kecil sambil nunduk.

Sampai akhirnya kami berdua terjebak dalam satu perdebatan paling absurd yang pernah aku alami di rumah sakit soal asam lambung.

Aku bilang asam lambungku kambuh karena telat makan.
Mas Yoga ngeyel
Itu bukan soal makan, tapi soal pikiran. Karena kamu cemas.
Aku bersikeras
Nggak bisa Mas. Aku ngerti tubuhku. Aku tahu aku kambuh gara-gara telat makan. Udah jangan ngatur lambungku.

Suara kami pelan-pelan naik. Saling ngeyel. Kayak anak kecil debat soal mainan. Sampai

dari kamar sebelah terdengar suara lantang
Jancok
Disusul makian-makian yang nggak jelas ditujukan ke siapa mungkin ke rasa sakitnya, mungkin ke dunia, atau mungkin ke kami.

Aku dan Mas Yoga langsung diam. Menoleh. Menahan tawa. Lalu pelan-pelan menurunkan volume suara sambil tetap membela pendapat masing-masing dengan gaya yang lebih sopan.

Itulah Mas Yoga.

Orang yang datang bukan karena disuruh, tapi karena merasa perlu hadir
Yang bisa membuat ruang UGD terasa seperti ruang tamu
Yang membuat rasa sakit bisa ditertawakan bersama

Kadang aku mikir, manusia seperti Mas Yoga itu langka
Dan saat mereka pergi, kita nggak cuma kehilangan satu sosok
Kita kehilangan keteduhan
Kita kehilangan cara orang hadir tanpa banyak gaya
Kita kehilangan teman ngobrol yang tahu caranya mendengarkan bahkan di tengah rasa sakit

Tapi aku percaya Mas Yoga nggak benar-benar pergi
Mungkin di tempat sana, ia sedang melanjutkan debat soal asam lambung
Dengan para malaikat, dengan para wali, atau bahkan dengan Tuhan sendiri yang mungkin sedang nyengir membiarkan mereka saling ngeyel

Dan aku

Aku cuma ingin bilang
Terima kasih Mas
Untuk malam itu
Untuk semua yang tak sempat aku ucapkan
Dan untuk kehadiran yang tak bisa diganti oleh siapa pun. 

09 Juli 2025.
Yogyakarta.

Komentar

Postingan Populer