Delapan Tahun dan Satu Pelukan.



Penulis : Elandraya
Kurator : RK


20 Juli 2024, pada suatu siang yang terik, dimana aku hanya sanggup leyeh-leyeh di kamar kost sambil scroll medsos, di antara riuh informasi yang menjejali pikiran, aku melihat postingan yang diteruskan di story Instagramnya Kak Ariel Tatum. Post itu bertajuk 'Sang Kembang Bale'. Dalam video itu terlihat Kak Ariel sedang latihan nari. Rasa ingin tahu menuntunku untuk mencari informasi tersebut dengan cara menelusuri lewat Instagram infotitimangsa. Ternyata Kak Ariel sedang mempersiapkan debut monolog yang dipadu dengan tarian Ronggeng gunung, di Bandung.

''Hmmm Bandung," kernyitku sambil memutar netra karena kesal.

Jujur, Bandung adalah kota yang kurang aku senangi, struktur geografisnya kurang akseble buatku dan sepedaku, sebab topografi jalanannya yang kerap naik turun. Setelah berpikir beberapa lama, "berangkat nggak ya?" Dengan repetitif kuulang menimang dengan gamang, akhirnya kuputuskan untuk berangkat. Rencananya di samping melihat pertunjukan itu, aku juga ingin bersilaturahmi dengan teman-teman yang ada di sana. Kebetulan juga sudah lama aku wacanakan ini, hanya saja belum juga terrealisasi. "Ah, sekalian saja", pungkasku mantap.

Pada 24 Juli 2024 kupersiapkan segalanya, mulai dari order tiket pertunjukan sampai kereta api, serta menyusun beberapa agenda ketika di Bandung nanti.

10 Agustus 2024, hari keberangkatan pun tiba, dari stasiun Lempuyangan Yogyakarta, Menuju Stasiun Kiaracondong Bandung. 

Melintasi batas hari sesuai jadwal kereta, 11 Agustus 2024 aku tiba di Stasiun Kiaracondong, lalu kulanjutkan perjalanan dengan Commuter Line menuju Bandung kota. Sesampainya di sana aku melakukan kebiasaan untuk bercengkrama dengan warga sekitar. Perlahan kukayuh sepedaku sambil menikmati sejuknya tipikal udara kota Bandung. Tentunya aku sempatkan singgah ke Jalan Braga, itu hukumnya fardu 'ain, seperti tak ke Jogja jika tak sempat ke Malioboro. Setelah ritual itu, dengan random aku berjalan tanpa arah mencoba akrab dengan setiap tanjakan dan turunan, meski sebenarnya aku agak jengkel dengan karakter jalanan Bandung, hingga tak terasa sampailah aku ke Jalan Asia Afrika. 

Di sana aku rehat sambil menunggu waktu check-in ke penginapan, aku juga banyak bercengkrama dengan warga lokal; pejalan yang sedang berolahraga, pesepeda, tukang kopi, PKL, pengasong, tukang parkir sampai supir. Banyak orang dengan berbagai macam latar belakang, mulai dari purnawirawan jenderal polisi sampai bekas pecandu narkoba. Tapi kerap aku disergap kesimpulan semacam ini, bahwa bagiku deretan predikat yang melekat pada mereka tidak ada yang spesial, semua manusia di hadapanku sama saja; sama-sama makhluk Tuhan apa pun latarbelakangnya. 

Setelah dirasa cukup bercengkrama, baru kulanjutkan perjalanan ke penginapan yang berlokasi di daerah Sarijadi. Karena jaraknya cukup jauh, aku memesan taksi online. Pas sampai di penginapan aku mendapat sedikit trouble dengan staff hotel yang tidak mau menerima reservasiku di tempat itu. Katanya harga yang kubayarkan di aplikasi tidak sesuai dengan harga yang mereka terapkan, karena hari itu weekend dan kamar yang kupesan sudah sold out, sampai-sampai sopir taksi yang mengantarku sempat membela bahkan mendebat staff hotel.

"Apa karena kondisi Aanya seperti ini?" Pak Sopir lantang. Aku sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan sikap diskriminatif terhadap difabel sepertiku, itu mah sudah biasa. Aku hanya menyayangkan kebijakan hotel yang tidak transparan ihwal kebijakan kasuistik semacam itu; bahwa ada beda harga untuk weekend. Karena rasanya tidak etis sampai harus melibatkan pihak lain, aku pun melerainya, kubilang "Udah Pak, Bapak dilanjut aja perjalanannya, ini cuman masalah kecil kok," aku meyakinkan.

Setelah Pak sopir pergi, Aku berbicara dengan staff hotel tersebut; 

"ya terus ini gimana? saya pesan ini sudah jauh-jauh hari, kalo yang saya bayarkan itu ya harga yang tertera di aplikasi. 
Itu kan resiko kerjasama kalian dengan pihak aplikasi!" Aku terbiasa adu argumen sebagai upaya survival.

"Iya pak, Kami paham tapi kan kalau di sini, weekend itu harganya minimal 150.000, sedangkan Bapak hanya membayar di bawah itu dan udah itu kamar yang Bapak pesan juga sudah tidak tersedia, hanya tersisa kamar dengan double bed, ya itu pun posisinya di atas. Ya kalau bapak mau yang double bed Bapak harus tambah Rp50.000 atau kami kembalikan uang Bapak sesuai yang tertera di aplikasi" jawabnya. 

"Ya saya sih nggak papa kalau nggak bisa nginep di sini ya, tapi jangan salahkan saya kalau rating tempat ini jadi buruk." pungkasku.

Mendapat ultimatum dariku, staff hotel itu masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian pihak manajemen akhirnya memperbolehkanku untuk masuk ke dalam penginapan dan mengguanakan kamar sesuai pesananku. Aku pun check in di sana meski merasa agak dongkol, kenapa hal-hal seperti itu harus terjadi. 

Setelah masuk kamar aku langsung istirahat rebahan, dipikir-pikir gak Jogja gak Bandung sebagai destinasi wisata sama saja suka ada kesempatan nuthuk harga seperti itu. Make sense sih, tapi ada baiknya kalau informasinya transparan, jadi gak akan ada miskom seperti itu. Sudah terkuras energi, harus menguras emosi pula. Seperempat jam kemudian aku bergegas membersihkan diri. Setelah selesai bersih-bersih dan ganti pakaian aku pun berangkat menuju tempat pertunjukan. 

***

Sebenarnya jarak dari penginapan ke tempat pertunjukan itu tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 1,6 KM (Jarak itu untuk pejalan kaki yang diarahkan oleh aplikasi penunjuk jalan), jadi aku memutuskan untuk berjalan ke sana dengan bersepeda. Berhubung penginapanku itu jalannya satu arah dan menurun, aku dilarang untuk melawan arah oleh staff hotel. Aku pun mengambil jalan memutar dengan jarak tempuh yang jadi lebih jauh, lebih dari 2 km. Alhasil ketika keluar penginapan aku sudah harus menghadapi tanjakan yang cukup bikin ngos-ngosan, meski udara sore mulai kembali ramah. Setelah cukup lama berjalan akhirnya aku pun sampai di jalan menurun yang cukup curam dengan kemiringan mungkin lebih dari 25 derajat. Aku masih memberanikan diri menuruni jalan itu, setelah berhasil menuruni jalan tersebut, sialnya aku harus menghadapi tanjakan lagi yang lebih dari 35 derajat kemiringannya. Tapi aku tetap berusaha untuk menyanggupi tanjakan tersebut. Pada akhirnya sanggup aja tak cukup, kakiku tak kuat lagi untuk mengayuh, aku berhenti di tengah-tengah tanjakan itu. Sekuat tenaga yang tersisa aku berusaha untuk menahan sepeda agar tidak turun ke belakang sambil menunggu pertolongan. Dari atas kulihat ada seseorang yang menuju ke arahku, tapi sesampainya berpapasan dan aku meminta pertolongan, sungguh hatinya ketinggalan di freezer, orang itu tidak merespon. Untungnya tak lama berselang aku melihat
dari arah yang sama ada beberapa anak-anak remaja. Aku meneriaki mereka;

"Hai minta tolong minta tolong! tolongin saya! bantuin saya naik ke atas!"
"Munggah ka luhur a" sahut mereka.
"Enya", jawabku.
"Ari munggah mah ka luhur cung" gumamku terkekeh. 

 Mereka pun turun membantuku menaiki tanjakan itu. Sesampainya di atas tak lupa kuucapkan terima kasih. Habis itu barulah kutemukan jalan yang lumayan rata dan agak menurun jadi aku tidak perlu mengeluarkan tenaga yang berarti. Di sela-sela perjalanan itu aku menyempatkan diri untuk membeli minum di sebuah warung, karena sudah sangat ngos-ngosan. Lalu kulanjutkan perjalanan, hingga sampailah aku pada sebuah jalan menurun yang bikin ngeri membayangkan aku dengan sepedaku harus meluncur bebas di kemiringan yang lebih dari 40°, padahal jaraknya hanya tersisa 700 meter lagi menuju lokasi.

Aku cukup sadar kapasitas, keberanianku sudah di ambang batas. Aku tidak berani lagi mengambil resiko jika saja terjadi hal-hal buruk ketika aku harus menuruni jalan itu. Pada akhirnya aku memesan taksi online, beberapa saat kemudian taksi yang kupesan pun tiba. Aku minta tolong ke pak Sopir untuk membantu memasukkan sepedaku ke bagasi belakang, dengan besar hati yang sungguh membuat respek di luar bagian dari pekerjaannya dia tentu saja bersedia. Sementara sepedaku rebahan di bagasi, aku duduk di depan sembari bercengkrama dengannya. Dia sungguh pribadi yang baik, menghargaiku bukan karena aku memiliki keterbatasan, tapi murni penghargaan sesama manusia. Bahkan setibanya di lokasi pak sopir itu enggan dibayar, padahal aku sudah berupaya memaksa karena itu adalah hak dia atas profesinya, tapi dia tetap menolak. Ya pada akhirnya aku tak mampu mengurungkan niat baik seseorang jika itu datang dari hati dan terasa sangat tulus. Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih dan dengan sungguh mendoakan semoga hidupnya diberi kemudahan.

***

Setibanya di lokasi aku langsung menanyakan loket penukaran tiket, ternyata aku harus menunggu karena loket baru akan dibuka jam 6 tepat. Aku pun menunggu sambil rehat setelah perjalanan yang rasanya begitu melelahkan. Syukurnya senja di Bandung tak kalah indahnya dengan nyore di Jogja, kulepas penat sambil menikmati betapa sejuknya suhu udara di sana. Tapi setelah menukar tiket ternyata aku harus menunggu lagi sekitar sejam. Barulah pada pukul 19.15 para penonton mulai berbaris untuk memasuki area pertunjukan. Syukurnya aku mendapatkan perlakuan khusus untuk memasuki area pertunjukan tersebut dengan diperkenankan masuk terlebih dahulu serta dibantu oleh crew yang ada di sana. 

Pas aku mulai memasuki area pertunjukan, aku disambut semilir angin nan sejuk yang menebarkan bau tanah basah dan wewangian nan lembut yang entah dari mana asalnya. Seakan aku memasuki teritori lain dengan dimensi lain. Mungkin keberhasilan crew mendekorasi atau mungkin juga sesuatu yang khusus sedang kualami, aku seperti terhipnotis. Pertunjukan pun dimulai dengan alunan gendang yang ditabuh begitu ritmis, seakan menyampaikan keteraturan kosmis nan mistis. Seperti intro, tak lama berselang sang kembang bale (Kak Ariel) pun muncul, diiringi lantunan musik khas ranah Pasundan. Lagi-lagi irama musik itu seperti menyihir, membawaku secara magis ke suatu dimensi arkais yang sejujurnya aku tak mampu memahaminya secara utuh.

Aku tidak terlalu fokus terhadap monolog yang dibawakan. Seakan terhipnotis pada setiap hentak kaki serta lentur tubuh yang menari-nari mengikuti irama musik yang dimainkan. Fase ini berlangsung cukup lama dan begitu membuatku lena, sampai-sampai aku disadarkan oleh lambaian kecil dari jari jemari lentik sang kembang Bale yang menyapaku di tengah-tengah pertunjukan. Aku mencoba kembali fokus pada pertunjukan, tapi lagi-lagi aku kembali terjebak pada dimensi Itu. Aku baru kembali tersadar setelah mendengar riuhnya tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton dan tanpa terasa ternyata pertunjukan telah usai. Aku terdiam sejenak sambil mengernyit bertanya-tanya "apa yang kualami barusan?" Untuk membuatku sepenuhnya pulih aku minum air putih yang kubawa untuk menetralisir dan biar lebih stabil. 

Pasca acara tersebut ditutup dengan semacam seremonial dan sambutan-sambutan dari pihak-pihak yang terlibat, aku melihat Kak Ariel berfoto dan menyalami beberapa orang yang mungkin itu teman dan kerabatnya. Tanpa kusangka dia pun turut menghampiriku sembari berucap;
 
"How are you?"
Kubalas sapaan itu dengan lirih saking masih agak kagetnya, "I'm fine."

Sejenak kupikir, kok dia masih ingat aku setelah 8 tahun tak bertemu? Lalu dia mengulurkan tangannya untuk disalami, kusambut, kucium tangannya, dan kusematkan perhatiannya di kedalaman hati. Aku membuat gestur mengisyaratkan untuk dipeluk olehnya,




 dan betapa rendah hatinya sang Kembang Bale, tanpa ragu dia memelukku, sambil bertanya;

"Sama siapa ke sini?"
"Sendiri" timpalku singkat.
"Serius??" Wajah cantiknya mengekspresikan keterkejutan.
"Serius dong!" tegasku mantap sambil nyengir tentu saja.

Kak Ariel lalu memanggil mamanya dan bilang, "Ma, ini temen aku dari Rawamangun!"
Bunda Tatum menyalamiku lalu kucium tangannya juga sebagai penghormatan.

Di sela pertemuan itu Kak Ariel nyeletuk gini, "aku tuh sampai nggak fokus tahu pas pentas saat lihat kamu!"

Jujur aku jadi merasa agak bersalah sampai bikin sang kembang Bale nggak fokus dengan pertunjukkannya. Tiba-tiba Bunda Tatum bertanya, "gimana penampilannya tadi, bagus?" Sambil tersenyum. Kuyakin betapa bangganya beliau pada putrinya.

"Bagus!" ujarku mengangguk dengan senyum paling tulus.

Kemudian Kak Ariel undur diri untuk menyalami teman-temannya yang lain. Untungnya aku sempat menahannya dulu untuk meminta foto. Saat sesi kami berfoto foto, Kak Ariel sempat menanyakan hal di luar dugaan lainnya, "Kamu masih simpan foto-foto kita yang dulu?"

"Masih." Entah kenapa saat itu jawabanku selalu singkat.

Setelah selesai sesi foto aku pun menarik diri dari keramaian, berpindah dengan sepedaku duduk di sebuah beton. Di sana ada seseorang yang menawariku sebatang rokok, tentu saja kuterima tawaran tersebut, karena sebat selain antidepressan juga bisa jadi reward pada diri sendiri; semacam ungkapan kesyukuran dengan menghembuskan asapnya perlahan-lahan sambil tersenyum menatap awan.

Tak terasa peristiwa pertemuan itu begitu cepat, sampai-sampai aku lupa bahwasanya ada hal urgen yang ingin aku sampaikan. Aku ingin ngobrol banyak dengan Kak Ariel ihwal kesehatan mental. Semoga suatu saat aku bisa sempat ngobrol sambil ngopi dan sebat bareng. Tapi kesempatan itu sudah lewat dan aku juga benar-benar lupa untuk menyampaikan hal tersebut. Semoga, ya semoga di lain waktu aku bisa bertemu lagi dan benar-benar bisa ngobrol mengenai kesehatan mental. 


Bandung - Yogyakarta. 
Agustus 2024.

Komentar

Postingan Populer